Selasa, 19 September 2017

Permainan Tradisional Bali
Permainan Tradisional Bali – Seperti yang sudah kamu ketahui bawa perkembangan teknologi kini sudah semakin cepat dan pesat, hal ini membuat orang-orang sibuk dengan gadget yang mereka miliki. Tidak hanya orang dewasa yang dipengaruhi bahkan anak-anak juga ikut terjun ke duni Internet.
Hanya dengan Internet, permainan mudah diakses dan orang tua tidak ingin pusing mengurus anaknya lalu membiarkan anaknya sibuk dengan gadgetnya masing-masing, ini penyebab utama permainan tradisional semakin jarang dimainkan dan bahkan dilupakan.
Biasanya permainan tradisional Indoneisa dimainkan di waktu sore hari oleh anak-anak, permainan tradisional banyak mengakarkan kita betapa pentingnya kerja sama kelompok, mengatur strategi dan membuat anak-anak saling bersosialisasi satu sama lain.
Bali juga memiliki permainan tradisional yang tidak kalah menariknya dengan permainan moder yang ada saat sekarang ini yang memiliki dampak negatif terhadap pola pikir dan tingkah laku anak.
Bali juga memiliki permainan tradisional yang sangat menarik dan tidak kalah dengan permainan modern seperti sekarang, dimana permainan modern banyak dampak negatif terhadap pola pikir dan kelakuan anak. Berikut ini adalah permainan tradisional dari Bali.
Permainan Tradisional Bali Metajog
Metajog merupakan sebuah alat permainan yang terdapat, nama metajog ini juga menjadi nama permainan tersebut. Untuk bermain tajog juga membuthkan keseimbangan dan kemahiran, oleh karena itu kamu harus belajar terlebih dahulu jika ingin bermain metajog.
Metajog atau titajong diamainkan dan dijadikan salah satu lomba pada peringatan hari kemerdekaan, permainan metajog memiliki persamaan dengan permainan yang berasal dari jawa barat, yaitu egrang, memiliki cara bermain dan bentuk alat yang sama, hanya nama saja yang membedakan.
Berdiri sambil berjalan di atas bambu merupakan suatu hal yang tidak mudah dan membutuhkan latihan rutin serta diikuti keinginan yang kuat untuk memainkan tajog. Hingga saat ini permainan metajog sudah sulit kita temui. Permainan jaman dulu memang sangat menyenagkan.
Permainan Tradisional Bali Meong-meongan
Permainan Meongan-meongan merupakan permainan tradisional Bali yang sangat papuler di Bali. Permainan Meong-meongan sudah banyak dikenal oleh anak-anak Jawa dan tidak hanya populer dan terkenal di Bali saja.
Di daerah Jawa permainan Meong-meongan ini bernama Kucing-kucingan, sebenarnya ha ini tidak jauh berbeda karen kucing memiliki suara yang berbunyi “meong”, kamu pasti lebih mengenal permainan ini dengan nama kucing-kucingan. Permainan tradisional ini sama dengan permainan meonga-meongan, dari aturan  hingga cara bermainnya.
Permainan tradisional Bali yang satu ini membutuhkan sekurang-kurangnya 8 orang untuk memainkakan permainan ini, jika pemain lebih dari 8 orang permainan akan semakin menyenangkan. Dari 8 orang pemain tersebut akan ada 1 orang yang memiliki peran sebai tikus.
Selain tikus diperlukan juga 1 pemain lagi yang memiliki peran sebagai mong (kucing). Pemain lainnya membuat barisan berbentuk lingkaran yang ditengahnya ada pemain yang menjadi bikul (tikus). Posisi meng (kucing) di luar lingkaran, permainan dimulai dengan diiringi nyanyi, pemain yang lain harus berusaha melindungi bikul dari tangkapan si meng.
Tapi apabila lirik lagu sudah sampai pada “juk-juk meng juk-juk kul” perlindungan yang diberikan pemain lainnya kepada bikul tidak beguna lagi karena arti dari lirik nyanyi tersebut adalah “ayo tangkap tikusnya”, pada saat ini meng masuk ke dalam lingkaran dan menangkap bikul.
Bikul boleh keluar dan berlarian di luar lingkaran dan masuk sesuka hatinya, apabila bikul tertangkap oleh meng, maka bikul akan menjadi meng dan pemain lainnya menjadi bikul secara bergantian. Permainan ini sangat menyenangkan.
Permainan Tradisional Bali Megoak-goakan
Permainan tradisional Bali yang lainnya adalah megoak-goakan, dalam permainan ini terdapat beberapa orang yang membentuk sebuah barisan dan saling memegang satu sama lain. Para pemain memakai ikat pinggang yang kuat dan nyaman.
Karena ikat pinggang itu nantinya akan menjadi pegangan orang yang berada di belakangnya dan nanti akan ditarik-tarik, usahakan ikat pinggang diikat dengan kuat dan nyaman agar nantinya tidak terasa sakit saat proses bermain megoak-goakan.
Dalam permainan ini dibutuhkan dua kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 hingga 10 orang anggota, sesuaikan dengan kondisi. Berbarislah ke belakang menyerupai ular, lalu satu pemain yang menjadi kepala berada di depan.
Pemain yang menjadi kepala memiliki tugas untuk mengamankan aggotanya dan memakan aggota yang terdapat pada kelompok lawan, jika satu kelompok mendapatkan anggota yang paling banyak akan menjadi pemenang. Permainan ini dimainkan di atas tanah yang yang digenangi air agar pemainan menjadi semakin seru dan menambah keceriaan dalam bermain.


Sejarah dan Filosofi Patung Catur Muka Denpasar
Ide pembuatan patung Catur Muka lahir setelah disahkannya Lambang Daerah Kabupaten Badung oleh DPRD dengan SKP tanggal 18 Juni 1971. Sebagai realisasinya, diterbitkan SKP tanggal 28 Desember 1971. Isinya berupa penugasan membuat gambar Pra Rencana Monumen di Perempatan Agung Denpasar.
Dalam brosur atau buku kecil yang berjudul: Patung Empat Muka, Bupati I Wayan Dhana, tertanggal 30 Mei 1973, menegaskan: “Untuk menghindari adanya salah tafsir maka sehari-hari agar dipergunakan nama Patung Empat Muka, (karena tidak dibuatkan upacara keagamaan Widhi Widhana) yang dasar ceritanya dan filosofinya diambil dari lontar-lontar yang berhubungan denga hal tersebut.”
Artinya, patung ini dibuat untuk penyebaran nilai-nilai filosofis dan konsepsi kepemimpinan, bukan untuk disembahyangi. Semula ditegaskan bahwa patung ini bernama Patung Empat Muka, sekarang lebih popular disebut Patung Catur Muka.
Disebutkan lontar-lontar panduan dalam perancangan dan dasar filosofisnya adalah: Lontar Widdhi Sastra, Gedong Wesi, Siwa Gama, Ramayana, Garuda Carita, Babad Bali, Usana Bali, Brahma Tatwa, Siwa Sesana, Niti Sastra, dan Kertha Tatwa.
Panitia perumus konsepsi filosofis diketuai oleh Drs. I Wayan Mertha Sutedja, BA, anggotanya: I Nyoman Swetja Atmanadi, BA., Drs. I Gusti Agung Mayun Eman, I Gusti Agung Kepakisan, SH.
Dalam rumusnya dipaparkan: “Patung Empat Muka yang berdiri di atas bunga Teratai/Tunjung/Lotus/Padma adalah reinkarnasiNya GURU, dalam bentuk perwujudan CATUR GOPHALA. Dengan mengambil perwujudan Empat Muka adalah simbolis pemegang Kekuasaan Pemerintahan yang dilukiskan dalam keempat buah tangannya”.


Catur Gophala memegang Aksmala/genitri, bermakna bahwa pusat segalanya adalah kesucian dan ilmu pengetahuan. Cemeti dan Sabet mengandung arti ketegasan dan keadilan harus ditegakkan oleh pemerintah. Cakra artinya barangsiapa yang melanggar hukum dan peraturan harus dihukum. Sungu artinya pemerintahan berpegang pada penerangan atau undang-undang. Tali pada badan simbol reinkarnasi, artinya mengetahui keadaan sebelum dan sesudah.
Catur Muka berwajah empat menghadap ke empat penjuru mata angin: Menghadap ke Timur (purwa) wajah Sanghyang Iswara, bermakna keputusan kamoksan atau Kebijaksanaan.
Sanghyang Brahma, menghadap ke arah Selatan (daksina) menjaga ketentraman (menghilangkan segala kejahatan, penyamun, menegakkan keamananan dan ketertiban). Sanghyang Mahadewa, menghadap ke Barat (pascima), dikenal juga sebagai Dewa Asung yang mengkaruniakan kasih sayang.
Sanghyang Wisnu, menghadap ke arah Utara (uttara), mempunyai kekuatan untuk menyucikan jiwa manusia “sahanning ras lara roga musna” (segala cacat yang menggangu di dunia termusnahkan), rakyat menjadi bersukaria, negeri aman, manusia gemar menjaga kesucian dan keindahan, negeri sejahtera sentosa.
Generasi muda dan warga kota yang tiap hari melewatinya, umumnya tidak lagi paham dan menangkap makna serta nilai-nilai tersebut. Demikian juga para pejabat pemerintahan yang berkantor di areal patung ini, kebanyakan awam terhadap makna filosofi dan konsepsi Catur Muka.
Mengingat semakin kaburnya ingatan terhadap makna filosofis dan konsepsi Catur Muka, tidakkah dirasa penting untuk disebarluaskan kembali? Mungkinkah filosifi dan konsepsi di balik Patung Catur Muka direvitalisasi untuk dijadikan pilar filosofis kewargaan dan pengembangan Kota Denpasar? [b]

Srombotan Klungkung

SEROMBOTAN KHAS KLUNGKUNG.
Serombotan adalah makanan dari bahan sayuran yang direbus seperti sayur kacang panjang, tauge/toge, pare atau paria, terung bulat tidak direbus, sayur kangkung dan sayur bayam yang diberi sambal kelapa bakar dan terasi bakar yang telah dicampur dengan bumbu khas Bali atau Khas Klungkung yang paling enak dan asli. Ada juga serombotan versi lombok. Sekarang Anda bisa membuatnya sendiri di Rumah.

Resep Serombotan Khas Klungkung

Berikut Resep Serombotan yang dilengkapi dengan cara mudah bikin sendiri di rumah. 
RESEP SEROMBOTAN KLUNGKUNG

BAHAN :

SAYUR REBUS :
  • 2 ikat kacang panjang, dipotong2 3cm atau sesuai selera
  • 1 ikat bayam, disiangi
  • 100 gr tauge
  • 1 buah pare, potong-potong
  • buah terung bulat, potong-potong

BAHAN BUMBU :
  • 2 buah cabe merah
  • 3 siung bawang merah
  • 3 cm kencur
  • 3 butir kemiri
  • 1/2 sdt terasi
  • 50 gr kacang tanah sangrai
  • Garam, gula pasir secukupnya
  • 2 buah jeruk nipis
  • 1/2 gelas air
  • ( haluskan = bumbu kacang )
SAMBAL KELAPA BAKAR :
  • 1 buah cabai merah, goreng
  • 1 siung bawang putih, goreng
  • 1/2 sdt terasi bakar
  • 100 gr kelapa parut, sangrai
CARA MEMBUAT SEROMBOTAN ENAK KHAS BALI ASLI :
1.    Haluskan cabai,bawang merah, kencur, kemiri,terasi,kacang tanah, garam,gula. Beri air jeruk nipis dan 1/2 gelas air.
2.    Haluskan cabe merah goreng,bawang putih goreng,dan terasi bakar kemudian diaduk rata dengan kelapa yg sdh disangrai
3.    Susun semua sayuran rebus dalam jumlah yang sama banyaknya.

4.    Taburi sambal kelapa. Siram bumbu kacang. Taburi dengan kacang kedelai goreng.

logo SD Negeri 1 Kamasan